28 Juli 2010

Cerbung



The Way Of Love (2)


Lanjutkan..!!! ini SBY made on...

maksudnya Lanjutannya…^_^

Teriakan bel tanda istirahat menggelegar keseluruh penjuru sekolah. Sontak semua penghuni kelas berhamburan keluar, mulai dari guru lalu diikuti oleh murid-murid yang sedari tadi telah mengikuti pelajaran yang pastinya cukup menguras energi mereka. Kini mereka memiliki waktu 15 menit untuk sekedar menikmati makanan yang ada di katin atau bermain dengan teman-teman mereka. Tempat-tempat seperti lapangan basket, taman sekolah dan café menjadi tempat favorit para murid untuk beristirahat. Suara teriakan, tertawa dan gaduh karna berkejar-kejaran telah menjadi hal yang lumrah saat jam istirahat, dimana semua murid dapat mengekspresikan dirinya seperti keinginannya sendiri.

So Eun masih betah didalam kelas, begitu juga dengan Kim Bum. Satu per satu ajakan datang silih berganti dari teman-teman So Eun untuk keluar bareng, namun So Eun menolak ajakan dari teman-temannya itu dengan ramah tanpa menyakiti hati si penganjak. Sekarang hanya ada So Eun dan So Eun yang menjadi penghuni kelas yang cukup luas itu. Setelah selesai memberes-bereskan buku yang berantakan di mejanya, So Eun tidak langsung keluar kelas. Ia sepertinya masih menunggu seseorang yang telah berjanji mengajak ia ke cafe menikmati makanan favoritnya yaitu mie ayam.

Sambil menunggu orang yang dinanti datang, pandangan So Eun berhenti pada sosok Kim Bum. Kim Bum terlihat masih sibuk mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh guru matematikanya tadi sambil memencet-mencet kalkulator yang ada di tangannya. Sesekali terdengar suara keluhan dari mulutnya. Melihat Kim Bum begitu So Eun berniat menyapanya untuk sekedar basa-basi karna kemaren Kim Bum sudah beri contekan pr fisika sama dia.

“Hei...kamu, ga keluar?” kata So Eun membuka pembicaraan.

Levi tidak menjawab pertanyaan So Eun, dia tetap tekun dan fokus terhadap buku yang ada dihadapannya. Melihat tingkah Kim Bum yang cuekin dia, So Eun menjadi sangant kesal, lalu ia mengoceh sendiri seperti Artis sinetron yang lagi memerankan monolog.

“Kok masih ada ya cowok yang nyebelinnya setengah mati. Sombong banget, dipanggil ga nyaut. Aku aja yang terkenal perasaan ga gitu-gitu amat..Hmm..mungkin ne orang tuli kali yah, atau memang tuli beneran” celoteh So Eun dengan nada yang keras.

Kim Bum tetap cuek seperti tidak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh So Eun barusan. Ulah Kim Bum ini membuat kekesalan So Eun sampai di puncak tertinggi, sekarang So Eun berdiri dan berniat melabrak orang yang telah berani bertindak tidak sopan terhadapnya, serasa harga dirinya diinjak-injak. Dengan wajah garang yang sangat bernafsu untuk menghajar seseorang So Eun mulai mendekat kebangku Kim Bum. Belum terjalankan niatnya, tiba-tiba So Eun mendengar suara teriakan yang berasal dari mulut Kim Bum.

“Yes..akhirnya dapat juga jawabannya, selesai sudah...bisa istirahat deh sekarang...” teriak Kim Bum lega

“Hei, kamu itu punya telinga ga sih?!” hujat So Eun sambil memukul meja Kim Bum.

Kim Bum sangat terkejut dengan ulah So Eun itu. Dia tidak tahu kesalahan apa yang Ia perbuat sehingga So Eun marah besar kepadanya. Ia hanya terheran dan memandang So Eun dengan ekspresi bingung. Segera ia melepaskan handfree yang sedari tadi bernaung di telinganya, lalu bertanya kepada So Eun perihal kemarahannya.

“Hei...apa-apaan ini? Kenapa kamu marah sambil mukul meja? memangnya meja salah apa sama kamu?” tanya Kim Bum asal

“Meja sih ga salah...tapi kamu yang salah!” jawab So Eun setengah berteriak.

“apa? Aku yang salah? Kelihatanya kamu marah?” Tanya Kim Bum bingung

“Iya...!” jawab So Eun mantap

“Mamangnya aku salah apa? Perasaan dari tadi aku ga ganggu kamu deh?” tanya Kim Bum tambah bingung

“Emang ga ganggu..tapi ngeselin banget!” jawab So Eun ketus

“Ngeselin?” Kim Bum berpikir keras

“Tadi itu aku manggil kamu, tapi apa? Kamu malah nyuekin aku! Asal kamu tau ya...baru kali ini ada orang yang berani nyuekin aku!” jelas So Eun agar Kim Bum mengerti

“Oh..karna itu...memangnya kamu ga liat aku lagi pakai handfree dengerin musik, mana aku dengar kamu manggil aku” jawab Kim Bum tidak mau kalah

“Ya...mana aku tau kamu lagi dengerin musik” balas So Eun melambat

“Nah..sekarang kamu dah tau kan? Jadi ga usah sewot gitu..ga cocok banget sama imej kamu” ungkap Kim Bum

ByTheWay, ngapain tadi kamu manggil aku? ” tanya Kim Bum lagi

“ Sudah ga usah dipikirin, keburu bad mood lihat muka kamu!” jawab So Eun ketus

“ya udah...” Kim Bum cuek

Melihat tingkah Kim Bum yang cuek, So Eun merasa terhina sekali. So eun mendekat dan menggenggam dengan kuat kerah baju Kim Bum. Kim Bum terkejut dengan apa yang di lakukan So eun terhadapnya. Tak lama menatap Kim Bum dengan mata merah marah So Eun langsung melepaskan kerah baju Kim Bum, dia pun megepalkan tangannya dan satu pukulan berhasil mendarat di pipi kanan Kim Bum. So Eun pun tersenyum lalu melanjutakan aksinya dengan menggebuki Kim Bum secara membabi buta. Melihat Kim Bum babak belur olehnya So Eun tertawa puas, tapi sayang itu hanya ada di imajinasinya. So Eun pun balik ke bangkunya dengan perasaan sangat kesal dan kembali duduk manis di bangkunya dengan wajah manyun.


Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari pintu kelas memanggil nama So Eun.

Ternyata orang itu adalah Geun Suk pacarnya So Eun, orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh So Eun. Mereka sudah enam bulan pacaran. Geun Suk menyatakan cintanya pada So Eun ketika mereka masih duduk di kelas dua. So Eun mengenal Geun Suk sewaktu menghadiri pesta jamuan makan malam yang diadakan oleh orang tua Geun Suk yang bertujuan memperkenalkan putra sematawayannya itu kepada rekan-rekan bisnisnya. Sejak perkenalan mereka malam itu Geun Suk rajin sekali menghubungi dan menemui So Eun, orang tua So Eun sangat menerima baik dengan hubungan mereka. Geun Suk merupakan cowok populer di sekolahnya, jabatannya sebagai kapten basket telah berhasil menghantarkan tim basket mereka ke kancah internasional, lewat kepiawaiannya memberi umpan kepada teman dan memasukkan bola basket ke keranjang. So Eun menerima Geun Suk sebagai pacarnya karna hasutan dari teman-temannya dan ga mau bikin Geun Sok malu karna di tolak. Lagian dengan adanya status Geun Suk sebagai pacarnya ga akan ada cowok yang gangguin So Eun lagi.

Apa lagi waktu itu So Eun meresa hanya sebatang kara karena kedua orangtuanya selalu meninggalkan So Eun pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan mereka yang ada disana, bertemu dengan mereka pun harus di jadwalkan. Nenek So Eun yang selama ini slalu menemani dia dikala So Eun butuh sandaran dan berbagi cerita kini telah pergi juga meninggalkannya menghadap Sang Khalid. Tidak lama setelah kepergian neneknya itulah Geun Suk menyatakan cintanya kepada So Eun dan So Eun berharap Geun Suk bisa menjadi pengganti neneknya untuk tempat ia menghilangkan kegundahan dan mengeluarkan uneg-unegnya dalam menjalani hidup ini. Namun, harapan itu pun musnah dengan berjalannya waktu setelah So Eun mengenal Geun Suk lebih dekat, Geun Suk hanya mau menemani So Eun di saat bersenang-senang. Disaat So Eun membutuhkan ia sebagai seorang sahabat atau kekasih, Geun Suk selalu tidak ada waktu untuknya. Berpacaran dengan Geun Suk hanya sebagai simbol bagi So Eun tak ada hati didalamnya, dia tetap saja merasakan kesepian yang amat mendalam. Begitupun dengan Geun Suk yang hanya terobsesi terhadap So Eun yang terkenal susah di taklukan oleh cowok. Dan parahnya lagi Geun Suk menembak So Eun bukan karena cinta, melainkan untuk memenangkan taruhannya dengnan teman-teman team basketnya ( sadis ).

“Hai...my princess” sapa Geun Suk yang kini berada di samping So Eun.

‘Hai...Geun Suk...” balas So Eun singkat

“Maaf ya..aku agak telat, soalnya tadi guru nyuruh aku antar buku latihan ke kantor”jelas Geun Suk

“iya, ga apa-apa kok...yang penting kamu datang” kata So Eun.

“tapi kok muka kamu kelihatan BT sih?” tanya Geun Suk

“Tadi aku ketemu cowok ngeselin banget (sambil lihat kearah Kim Bum), tapi udahlah, gak penting juga..mending kita pergi yuk..dah laper nih” pinta So Eun

“Duh, kasihan my princess kelaparan...ya udah kita berangkat” ajak Geun Suk.

So Eun dan Geun Suk pergi meninggalkan kelas tanpa basa-basi dulu terhadap Kim Bum. Kim Bum yang dari tadi sibuk menyusun buku pelajarannya yang berantakan di meja kini hanya bisa memandangi kepergian mereka. Geun Suk adalah salah satu alasan Kim Bum untuk mengubur dalam-dalam mimpinya agar dekat dengan So Eun. Pasalnya, menurut Kim Bum seorang Geun Suk yang ganteng, baik dan populer cocok dengan So Eun yang cantik dan pintar. Bagi Kim Bum asalkan dapat melihat So Eun tersenyum, kebahagiaan Kim Bum lebih dari siapapun. Tunggu saja kalau sampai Geun Suk menyakiti So Eun, Kim Bum pun tidak akan tinggal diam.

Kim Bum menyandang tasnya untuk pergi beristirahat, dia harus membawa tas karena dia bawa bekal yang dibuatkan ibunya setiap pagi agar Kim Bum bisa berhemat. Kim Bum bergegas pergi menuju tempat favoritnya untuk beristirahat, yaitu lantai paling atas di sekolahnya yang biasa disebut atap. Sesampai di atap Kim Bum terlebih dahulu melepas kacamatanya lalu ia pun mengambil bekalnya di dalam tas dan tanpa berpikir panjang melahap makanannya itu. Selesai makan, Kim Bum menidurkan badanya dan melipat tangannya kebelakang sebagai bantal sambil memejamkan matanya, dia pun tertidur. Suara bel membangunkan Kim Bum dari tidur kilatnya, karena semalam dia harus kerja lembur di restoran tempat Ia bekerja part time.

Setibanya di kelas Kim Bum langsung menuju tempat duduknya. Dia mulai mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya. So Eun datang diantar Geun Suk yang setelah itu pergi kekelasnya sendiri. Kim Bum mencuri pandang kepada So Eun yang sedang asyik berbincang dengan teman yang duduk dibelakangnya. Melihat So Eun tersenyum dan tertawa dada Kim Bum menjadi sesak ya sesak yang membuat hatinya bebunga-bunga, dia lalu ngelus-elus dadanya berharap tidak bertambah sesak dan membunuhnya dalam keindahan cinta So Eun, tanpa sengaja So Eun pun melihat ke arah Kim Bum mata mereka bertemu, secepat kilat Kim Bum mengalihkan pandangannya pada buku-buku didepannya. So Eun heran melihat reaksi Kim Bum, Ia pun melanjutkan perbincangannya. Guru yang di tunggu telah memasuki ruangan kelas, semua murid berlarian pulang ke bangku masing-masing.

“Siang anak-anak...” sapa guru sambil menghampiri mejanya

“ Siang Buk...” jawab mereka serempak

“baiklah sekarang buka buku cetak kalian...halaman 123”suruh guru itu

Tampak semua murid sibuk membalikan bukunya.

“Pelajaran kita sekarang tentang Anatomi binatang...simak baik-baik, ibu akan menjelaskan” lanjut guru di depan kelas

Semua murid mendengarkan dengan baik apa yang diterangkan guru mereka. Sesekali tampak mereka mencatat penjelasan dari guru tersebut. Tidak ada murid yang lengah dalam pelajaran, maklum saja karna kelas ini adalah kelas unggulan. Hanya orang-orang terpilih yang bisa bernaung di ruangan lumayan besar ini. Jumlah dari mereka hanya dua puluh orang, makanya pelajaran bisa berjalan khusuk dan lebih individu. Setelah puas menerangkan pelajaran guru pun memberikan tugas pada para murid.

“Ibu akan memberikan latihan...tapi latihan kali ini berbeda, ibu ingin kalian megerjakannya berkelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang, berarti semuanya sepuluh kelompok. Ibu memberikan kebebasan untuk kalian memilih teman kelompok. Ibu nanti nama kelompok kalian lima menit lagi, silahkan kalian berembuk” jelas guru itu panjang lebar

Seketika ruang itu seperti bunyi lebah, semua orang sibuk mengajak untuk bergabung. Tawaran bergabung banyak berdatangan kepada So Eun, dia pun bingung harus pilih siapa. Dia melirik Kim Bum yang tetap santai, sepertinya dia tidak peduli dengan kelompok dia tetap sibuk membolak-balikan buku panduannya. So Eun pun berpikir kalau dia sekelompok sama Kim Bum, pasti dia bisa santai sedikit. Apalagi Kim Bum genius, pastilah latihan yang akan dibuatnya sempurna, pikir So Eun. So Eun pun memutuskan sekelompok dengan Kim Bum, tapi dia merasa berat untuk mengajak, gengsinya terlalu besar. Setelah beberapa detik berpikir So Eun melihat ada seorang gadis akan mendekati Kim Bum yang mungkin mengajak Kim Bum untuk sekelompok. Sebelum terlambat So Eun pun menyingkirkan gengsinya dan segera berdiri di sebelah bangku Kim Bum. Kim Bum bingung oleh tingkah So Eun.

“Teman-teman..maaf ya...aku dan Kim Bum telah sepakat untuk satu kelompok kali ini” jelas So Eun ke teman-temannya ramah.

“Iya kan Bum ah?” lanjut So Eun sambil melototkan mata kearah Kim Bum. Kim Bum yang mengerti dengan isyarat yang di berikan So Eun hanya mengangguk pelan. Sontak semua teman tadi kecewa berat.

“kali ini kau pintar” bisik So eun ke telinga Kim Bum lalu kembali ke Bangkunya. Kim Bum hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis.

“O.K student...semuanya udah dapat kelompokkan, nah sekarang ibu akan menjelaskan tugas kalian. Sebelum itu kalian duduklah bersama kelompok agar kalian dapat mendiskusikan tugas ini, mengerti? Now, please attention...”ujar guru itu.

So Eun menyruh Kim Bum untuk mendekat kebangkunya. Lagi-lagi Kim Bum hanya menurut walaupun agak sedikit kesal. Kini Kim Bum telah berada di samping So Eun, degub jantungnya mulai tidak karuan. Dia melihat ke arah So Eun, So Eun pun menatap Kim Bum.

“mengapa kau melihatku seperti itu? Oh..aku tau, kau jangan GR dulu, aku memilihmu karna tidak ingin di repotkan oleh mereka” kata So Eun setengah berbisik

“ternyata kau licik juga” ucap Kim Bum singkat

“apa kau bilang? Aku licik?” kesal So Eun tetap berbisik

“Jangan harap aku akan mengerjakan tugas ini tanpa mu” kata Kim Bum tegas

“Kau ini...apa maksud mu?” tanya So Eun marah

“Ssst...diam! aku mau mendengar penjelasan tugas kita. Aku ga mau karna bicara hal yang tidak penting denganmu tugas ku jadi buruk” suruh Kim Bum. Kini So Eun Diam menahan amarahnya.

Rasa sesal karna memilih Kim Bum menjadi partnernya pun kini bergema di benak So Eun, sekarang terlambat baginya untuk mundur dari pilihan yang ia buat sendiri. Saat asyik mendengarkan gurunya mengoceh di depan Kim Bum merasakan hpnya bergetar, dia minta izin keluar untuk mengangkat telepon.

Sekembalinya dari mengangkat telepon Levi langsung meminta izin pulang kepada gurunya. Setelah mendapat izin dengan tegesa-gesa Ia kembali ke tempat duduk dan memasukan bukunyua kedalam tas, tampak sebentar ia menulis sesuatu. Kim Bum memlemparkan sobekan kertas kemeja So Eun dan berlari meninggalkan kelas. So Eun membaca tulisan yang tertera di kertas itu “So Eun, ini nomor hp ku 085686382760, bisa kau hubungi jika kau siap untuk mengerjakan tugas ini. Tolong kau perhatikan apa yang di jelaskan guru. Aku tidak akan membuat tugas ini tanpa mu, walaupun aku buat ku pastikan tidak ada namamu! ” hal ini membuat So Eun tidak percaya, dia sedang di ancam oleh seorang laki-laki, sungguh membuatnya marah. Dia meremas-remas kertas itu hingga tak berbentuk untuk melampiaskan kekesalannya. Barulah setelah puas So Eun mulai berpikir, “Ada apa dengan Kim Bum?”

Bersambung..^_^

Pembaca juga ikut penasaran kan? saya juga penasaran..hee

Mari kita penasaran bersama, nantikan lanjutannya ya...^_^

26 Juli 2010

Pesta Tabuik di Pariaman





A. Pengertian Tabuik

Secara singkat Tabuik dapat di artikan arak-arakan. Maksud arak-arakan di sini ialah sebuah benda yang di pamerkan dangan mengangkatnya bersama-sama melewati jalur yang telah ditentukan, lengkap dengan musik tradisional dan sorak-sorakan dari pengangkat benda tersebut.

Secara defenisi, Tabuik adalah permainan anak nagari Pariaman yang telah menjadi adat-istiadat (kebudayaan) dan diselenggarakan setiap tanggal 1-10 Muharam. Penyelenggaraan Pesta Tabuik Piaman ini melalui prosesi yang cukup panjang. Prosesi pelaksanaan (ritual) tabuik ini dimulai dari pembuatan Daraga, Maambiak Tanah, Manabang Batang Pisang, Maarak Panja (jari-jari dan sorban), Maatam, Maradai, Naik Pangkek, Hoyak Tabuik dan diakhiri dengan Pembuangan Tabuik ke laut Pantai Gandoriah pada saat matahari terbenam, yang diiringi dengan gandang tasa (alat misik tradisional).

B. Sejarah Tabuik

Menurut sejarahnya tabuik berasal dari orang India yang tergabung dalam pasukan “Islam Tamil” yang di pimpin oleh “Thomas Stamford Raffles” pada masa kolonialisme Inggris di Bengkulu (1826). Setelah perjanjian London pada 17 Maret 1829, Bengkulu jatuh ketangan kolonial Belanda dan Inggris menguasai Singapura. Hal itu menyebabkan pasukan Tamil yang ada di Bengkulu menyebar di pulau Sumatera, sala satu tempat singgah mereka adalah Pariaman. Pariaman saat itu terkenal sebagai pangkalan laut (pelabuhan pangkalan laut) yang cukup ramai.

Sesampai di Pariaman tradisi Tabuik tetap mereka lakukan, sehingga sejak saat itu perayaan tabuik menjadi budaya masyarakat Pariaman. Dimana saat itu masyarakat yang ada di Pariaman belum memiliki kebudayaan yang unik seperti Tabuik. Karena untuk pertamakalinya penduduk di Pariaman melihat tabuik, mereka langsung tertarik dan menjadikan Tabuik sebagai kebudayaan mereka.

Sebagaimana diketahui makna dari peringatan Tabuik adalah dalam rangka memperingati kematian Hassan dan Hussen cucu Nabi Muhammad SAW dalam perang Karbala di Madinah, dimana saat itu peperangan antara bani Umaiyah dari Syria dibawah kepemimpinan Raja Yazid dengan kelompok Islam yang dipimpin oleh Hassan dan Hussen, yang menimbulkan kematian yang menggenaskan di pihak Hussen. Namun, berkat pertolonga Allah SWT, jenazah Hussen tiba-tiba diusung ke langit dengan menggunakan kendaraan “Bouraq” sejenis binatang berbadan kuda tegap, berkepala manusia serta mempunyai dua sayap lebar membawa sebuah peti jenazah yang berumbul-umbul seperti payang mahkota warna-warni. Inilah yang disebut Tabuik.

C. Bagian-Bagian Tabuik

Tabuik terdiri atas beberapa bagian, yang mana disetiap bagian tersimpan makna tersendiri. Berikut penjelasan serta makna bagian-bagian dari Tabuik:

1. Puncak (mahkota) Tabuik, puncak tabuik ini melambangkan kepemimpinan dan merupakan tempat untuk mendapatkan perlindungan

2. Gomaik yaitu penyangga bawah mahkota tabuik, gomaik ini merupakan cerminan suatu tindakan yang berlandaskan pada kebenaran

3. Pankat Atas (pangkek ateh), yang melambangkan unsur dalam masyarakat yang bersatu sesuai dengan fungsi masing-masing untuk mencapai tujuan bersama.

4. Pangek Bawah yang mencerminkan untuk mencapai sebuah tujuan yang ingin dicapai harus melalui musyawarah untuk mendapatkan kesepakatan bersama.

5. Bouraq adalah ilustrasi seekor kuda yang memiliki sayap dan berwajah manusia, yang melambangkan arak-arakan membawa peti yang dalam filosofi Minang sebagai Ninik Mamak yang mencerminan kearifan dan kemampuan.

D. Prosesi Pelaksanaan Tabuik

Dalam pelaksanaannya prosesi tabuik melalui beberapa tahapan ritual-ritual. Berikut penjelasan lengkap ritual atau prosesi yang harus dilakukan:

1. Membuat Daraga

Daraga adalah sebuah rumah yang terbuat dari bambu yang merupakan bahan tradisi yang telah ditetapkan untuk pembuatan daraga. Daraga dibuat dari tiga hari sebelum prosesi pembuatan Tabuik. Daraga adalah suatu tempat dimana pekerjaan membuat, menyimpan dan menyelesaikan tabuik sampai prosesi yang mulai dikerjakan pada 1 Muharam.

2. Maambiak Tanah (Mengambil Tanah)

Aktifitas mengambil tanah dilakukan pada sore hari tanggal 1 Muharam, dilakukan dengan suatu arak-arakan yang dimeriahkan bunyian gandang tasa. Mengambil tanah dilaksanakan oleh dua kelompok tabuik, yaitu kelompok “Tabuik Pasar” dan kelompok “Tabuik Subarang”, masing-masing kelmpok mengambil tanah pada tempat (anak sungai) yang berbeda dan berlawanan arah.

Pengambilan ini dilakukan oleh seorang laki-laki (pada umumnya orang dari keluarga tempat rumah tabuik atau daraga) dengan memakai kain putih. Kain putih yang berarti kejujuran dari kepemimpinan Hussen. Tanah yang diambil diletakan dalam daraga.

3. Manabang Batang Pisang (Pemotonan Pohon Pisang)

Menebang pohon pisang ini dilakukan oleh seorang laki-laki dengan memakai pakaian silat, silat adalah seni bela diri tradisional dari Minangkabau. Ia memotong pohon pisang itu dengan menggunakan sebuah pedang tajam yang menandakan ketajaman pedang Hussen. Ritual menebang batang pisang ini dilaksanakan pada tanggal 5 Muharam.

4. Maatam

Prosesi maatam ini dilaksanakan setelah sholat dzhuhur pada tanggal 7 Muharam dengan membawa peralatan ritual tabuik berjalan mengelilingi Daraga yang menggambarkan kuburan Hussein. Prosesi ini dilaksanakan oleh anggota rumah tabuik, ini menandakan kesedihan yang mendalam atas kematian Hussein.

5. Maarak Panja

Maarak Panja (maarak jari-jari) merupakan kegiatan membawa tiruan jari-jari Husein yang tercincang pada perang Karbala. Kegiatan ini ditujukan untuk menginformasikan dan membuktikan kepada khalayak ramai betapa kejamnya seorang Raja Yazid yang membunuh Hussein pada perang Karbala tersebut.

Kegiatan ini juga diiringi oleh miniature Tabuik yang diarak keliling wilayah Pariaman tempat beradanya rumah pembuatan Tabuik. Dan tak jarang orang yang maarak panja ini singgah di setiap rumah yang dilewatinya sambil meminta sumbangan. Sumbangan ini tidak dibatasi nilainya, tergantung dari si pemberi mengasihnya berapa. Tidak tinggal juga permainan alat musik tradisional dalam kegiatan ini yaitu “Gandang Tasa” , yang meramaikan hoyak Tabuik miniature ini. Gandang tasa ini dimainkan oleh 5-7 orang laki-laki.

6. Maarak Saroban

Maarak Saroban adalah kegiatan yang bertujuan menginformasikan kepada seluruh anggota masyarakat hal tentang penutup kepala (saroban) Hussein pada saat Ia berperang di perang Karbala. Dimana pada perang itu Hussein terbenuh dengan keadaan yang tragis dan tidak wajar yang masih menggunakan sarobannya. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 8 Muharam, dari pagi hari sampai malam harinya.

Maarak Saroban ini hampir sama dengan acara Maarak Panja (Maarak Jari-jari). Bahwa kegiatan ini juga diiringi oleh miniature Tabuik dan Gandang Tasa sambil sorak sorai para pembawa peralatan musik ataupun miniature tersebut. Namun pada prosesi ini tidak dilakukan pemungutan uang (sumbangan) kepada pemilik rumah-rumah yang dilewatinya.

7. Tabuik Naik Pangkat

Tabuik naik pangkat adalah proses penyatuan antara bagian bawah Tabuik dan bagian atas Tabuik disatukan menjadi sebuah Tabuik utuh, karena Rumah Tabuik tidak dapat menampung Tabuik yang setelah utuh mencapai tinggi 2 meter lebih itu.

Acara Tabuik Naik Pangkat ini, diadakan pada tanggal 10 Muharam setelah shalat subuh yaitu dini harinya. Dua bagian dari tabuik itu dibawa ketempat penyatuannya, dan seiring terbitnya matahari Tabuik diusung kerena (jalan) tempat perayaan tabuik.

8. Festival Tabuik (Pesta Tabuik)

Sepanjang hari pada tanggal 10 Muharam, mulai dari pukul 09.00 WIB pagi sampai sorenya dua tabuik dari dua daerah berbeda di dalam kota besar Pariaman yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa, menyuguhkan kepada pengunjung kiasan dari perang Karbala dimana Hussein dibunuh oleh Raja Yazid. Dua tabuik itu dihoyak-hoyak dan diadu seperti menggambarkan peperangan karbala ditambah dengan suara gandang tasa dan sorak sorai para pengunjung menjadikan acara ini lebih semarak dan serasa nyata ada sebuah perang.

Setelah sampai di pantai Gandoriah Pariaman, peperangan dilanjutkan oleh para pengunjung. Perang ini dilakukan dengan saling melempar pasir antara pengunjung dan tak jarang para turis yang melihat pun menjadi sasaran pelemparan pasir tersebut, yang membuat Suasana semakin semarak dan tak tergambarkan sedikitpun diwajah pengunjung kemarahan, yang terlihat hanya kegembiraan yang mendalam dari pengunjung.

9. Tabuik Dibuang ke Laut

Setelah perhelatan tabuik selesai dan perang antara dua tabuik dan pengunjung itupun telah selesai, pada pukul 18.00 WIB ketika matahari mulai terbenam dua tabuik tersebut dibawa bersama-sama ke laut dengan diiringi oleh gandang tasa yang dimainkan dengan keras sehingga pengunjung pun terbawa suasana sambil bersorak-sorai.

Saat matahari terbenam kedua tabuik yaitu tabuik Subarang dan tabuik Pasa dilemparkan kelaut, para pengunjung pun berhamburan kelaut untuk mengambil bagian-bagian tabuik yang masih utuh, biasanya untuk di pajang di rumah mereka. Dan tak jarang pula yang dari kampong pelosok negeri Pariaman ada semacam kepercayaan rakyat. Pembuangan tabuik ini merupakan prosesi akhir dari festival tabuik.


25 Juli 2010

Cerbung






Part 1

The Way Of Love

Perkenalkan:Kim So Eun, gadis yang biasa dipanggil So Eun ini adalah seorang remaja multi talenta. Model, acting dan menyanyi sambil ngedance adalah keahliannya. Memiliki wajah yang cantik, postor badan yang professional dan kekayaan yang takkan habis untuk 7 turunan ( tajir abis!!! ). Di bidang akademik pun dia tidak ketinggalan, dia selalu mendapat juara di kelasnya, walaupun tidak jadi yang pertama (karena slalu kalah tanding sm cowok kutu buku yg genius abis,…arrrghh). Dan yang pasti semua wanita sangat memimpikan diri seperti Hanna, dan para pria berharap memiliki kekasih seperti Hanna. Di balik semua itu Hanna sangat kesepian, ia mendambakan seorang teman yang tulus menerima dia sebagai seorang “So Eun” bukan karna embel-embel diatas.

Kim Sang Bum, lelaki yang dipanggil Kim Bum ini adalah cowok paling genius di sekolah So Eun (So Eun kalah deh...). Dia selalu memenangkan Olimpiade di bidang Ipa, matematika maupun Karangan Ilmiah ( good student…^_^). Dia bisa sekolah di SMA yang paling ternama dan elit ini karna beasiswa yang ia raih berkat kepintarannya. Kim Bum hanya seorang anak kurang mampu yang tinggal di rumah warisan ayahnya berserta ibu dan adiknya tercinta. Kehidupan yang sederhana membuat ia menjadi seorang yang kuat, bijaksana, dewasa dan bertanggungjawab.

Sekian dulu perkenalan tokohnya..yang lain nyusul aja yah...hee

Langsung saja kita masuk ke ceritanya, selamat menikmati, semoga terhibur (heee..), jangan lupa kasih saran dan kritik yg membangun ya….(ngarep^_^).

Malam ini So Eun akan menghadiri sebuah acara penghargaan bergengsi nomer wahid di Negerinya. Dia harus menghadiri acara ini karena dia termasuk salah satu nominator dari kategori “Aktris Terbaik”, ini pertamakalinya So Eun masuk nominasi penghargaan yang begitu besar, siapapun yang berhasil membawa tropy berbentuk orang berdiri dan tangan dilipat di dada itu pulang, maka tidak akan diragukan lagi kehebatanya sebagai seorang Entertain. So Eun sangat senang sekali waktu mendengar bahwa dirinya masuk nominasi dan bersaing dengan artis ternama lainnya.

Gaun terusan berwarna merah menutupi tubuh indah So Eun serta anting dan kalung yang bernaung di tempat masing-masing menjadikan So Eun seperti seorang wanita teramat cantik malam itu. Setelah menuruni mobilnya, serentak semua lensa kamera wartawan yang berada di tempat itu tertuju kepadanya, karpet merah yang menjadi jalur tempat ia berjalan merupakan saksi bisu kepiawaiannya dalam memikat perhatian setiap orang yang menatapnya, senyuman terindahnya pun ikut menyempurnakan penampilannya malam itu.

Kini tiba saatnya membacakan pemenang dari kategori “Aktris Terbaik”. Sebelum mengumumkan pemenangnya, di putar dulu video yang berisi 6 orang nominator, saat wajah So Eun muncul di Layar yang hampir sebesar lapangan bola itu, sontak semua penghuni gedung bersorak-sorai. Mendengar itu So Euntertawa kecil karna senangnya, ternyata banyak orang menyukainya. Dua orang artis ternama pun memasuki panggung, mereka bertugas untuk membacakan pemenangnya. Kedua Artis itu tampak mulai membuka amplop bernuansa emas yang mereka lakukan bersamaan. Sesaat suasana menjadi hening. Artis itu pun membacakan pemenangnya.

“Baiklah,..sepertinya semua orang disini sudah penasaran” ucap salah satu artis

“Iya benar, mari langsung saja kita bacakan” lanjut artis yg satu lagi

“Pemenang Kategori ’Aktris terbaik’ di raih oleh....Kim So Eun....Selamat untuk Kim So Eun” Ungkap artis itu bersamaan.

So Eun berjalan anggun menuju pentas setelah namanya disebutkan,. Dia sedikit sock dengan kemenangannya, karena nominator yang lain telah senior darinya dan dia tidak menyangka bahwa dia yang menjadi pemenangnya. Ekspresi tidak percayanya masih menyelimuti wajahnya, sekarang Ia telah menggenggam piala yang menjadi kebanggaan semua artis. Dia pun mulai berucap terimakasih, tak terasa air mata berjatuhan di pipinya. So Eun sangat terharu dengan kemenangannya, dia pun menyeka air matanya dengan perlahan. Orang yang melihatpun ikut terharu.


Setelah berhasil membawa pulang piala kebanggaan setiap artis itu, So Eun langsung menuju kamarnya untuk tidur karena jam telah menunjukakan pukul 2 pagi. Dia sangat capek karena tadi sepulang sekolah dia juga menjalani pemotretan untuk sebuah majalah. Hari ini sunggguh melelahkan baginya namun sekaligus membahagiakan, karena Ia berhasil mendapatkan penghargaan tersebut. Dia pun terlelap di kasur empuknya sambil memeluk piala tanpa mengganti gaun indahnya dengan piama.

Jam weker kepunyaan So Eun pun memekik sangat kencang, namun belum berhasil membangunkan si empunya. Jam weker tidak menyerah begitu saja, ia mencoba berteriak lebih keras lagi hingga memekakan telinga. Kali ini jam weker berhasil dengan misinya, So Eun terbangun dan segera menghentikan pekikan yang dapat merusak gendang telinga itu. Perlahan ia mencari jarum jam yang ada di tangannya itu sambil meneliti. Pandangannya masih kabur, lalu ia mengucek-ucek matanya sehingga dapat melihat dengan jelas arah jarum jam tersebut.

So Eun lansung melompat turun dari tempat tidurnya, dan mencoba berlari menuju kamar mandi, tapi gaunnya tidak melancarkan keinginannya itu, So Eun memijak ujung gaun yang menutupi kakinya hingga ia terjatuh. Rasa sakit merambas ketubuh So Eun yang membuat kekesalan di dalam hatinya memuncak, tanpa banyak pergerakan ia pun langsung membuka gaunya dan masuk ke kamar mandi. 5 menit berlalu, So Eun telah selesai mandi dan bersiap memakai baju sekolahnya. Setelah semua terpasang, mobil So Eun melaju dengan kencang sesuai dengan keinginan sopirnya. Di perjalanan So Eun menyisir rambutnya yang tadi tidak sempat ia lakukan, ketika asyik berdandan mobil So Eun terhenti. So Eun yang bingung kenapa mobilnya berhenti langsung bertanya kepada sopirnya.

“Kenapa Pak? Kok mobilnya berhenti?”, Tanya So Eun

“Saya tidak tau Non, mobilnya berhenti sendiri. Biar saya cek dulu ya Non”, kata sopirnya.

“Äduh Bapak…sayakan harus cepat sampai kesekolah, ntar telat ni Pak”, celetuk So Eun.

“Iya Non...maaf, sepertinya mobil harus di bawa kebengkel Non”, ungkap sopirnya dengan wajah memelas.

“Ya udah Pak, saya naik taksi aja ya…Bapak bawa mobil ini kebengkel, oke!”, tawar So Eun

“Baik Non..saya laksanakan”, jawab si sopir.

So Eun segera keluar dari mobilnya dan mencari taksi, tapi telah beberapa menit menanti, So Eun tidak mendapati satu taksi pun yang lewat didepanya. Hari sudah menunjukan pukul 7: 20 WIB, berarti So Eun punya waktu 10 menit lagi untuk sampai kesekolahnya sebelum gerbang ditutup. So Eun berusaha keras mencari-cari taksi namun dia tak kunjung menemukan taksi, dengan hati pasrah So Eun mulai berjalan menuju sekolahnya. Tiba-tiba So Eun melihat peluang besar untuknya agar tidak terlambat sampai di sekolah. Dia berjalan ketengah jalan dan berusaha menyetop sebuah sepeda motor yang tengah melaju. Tentu saja hal ini membuat si pengendara motor langsung menghentikan motornya. Dengan suara setengah marah si pengendara motor yang tidak lain adalah Kim Bum langsung bertanya pada So Eun.

“Hei…kamu ini kenapa? Mau mati ya?”, Tanya Kim Bum kesal.

So Eun langsung mendekati Kim Bum, setelah tau orang itu So Eun, Kim Bum langsung gugup dan tidak dapat berkata apa-apa. Helm yang melingkar di kepalanya berhasil menutupi ekspresi gugupnya, tanpa berkata-kata So Eun langsung mengambil helm yang tergantung di jok depan motor dan menaiki motor Kim Bum. Kim Bum hanya diam mematung dengan kejadian ini. So Eun pun memukul helm yang terpasang di kepala Kim Bum. Kim Bum terkejut karna pukulan yang lumayan keras itu.

“Hei…sakit tau…!”, ungkap Kim Bum kesal

“Kamu sih pakai acara diam segala…ntar telat nyampe sekolah”,jawab So Eun ketus.

“Darimana kamu tau kalau kita satu sekolah?”, Tanya Kim Bum asal

“Ya dari seragamlah…mana ada seragam SMA lain yang sama dengan SMA kita. Udah maju jangan banyak nanya!”, perintah So Eun.

“Udah naik maksa, seenaknya aja merintah”, celetuk Kim Bum.

“Kamu tidak tau siapa aku?”, Tanya So Eun sedikit menyombong.

“Memangnya aku harus tau siapa kamu?” balas Kim Bum

Terjadi kehening seketika. Wajah So Eun mengeluarkan ekspresi kesal bercampur tidak percaya.

“Udah cepat jalan…!!!” desak So Eun.

“Iya....Iya…”jawab Kim Bum ketus.

Motor Kim Bum pun melaju dengan hati-hati (agak lambat), sehingga membuat So Eun memaksa Kim Bum untuk lebih mempercepat laju motornya. Dengan segera Kim Bum mempercepat dua kali lipat laju motornya, So Eun secara spontan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kim Bum untuk berpegangan. Kim Bum menjadi semakin tegang karna ulah So Eun itu, darahnya berdesir dan jantungnya berdegub dengan kencang. Didalam hatinya Kim Bum sangat senang bisa boncengan dengan wanita idamannya. Ya, diam-diam Kim Bum telah menyukai So Eun waktu dari SMP sebelum So Eun terkenal seperti sekarang. Kim Bum selalu menyadarkan dirinya sendiri agar tidak bermimpi untuk mendapatkan So Eun, karna walaupun sekarang mereka sudah sekelas mereka tidak pernah melakukan percakapan atau sejanisnya, So Eun terlalu sibuk untuk itu. Sesampainya di depan pintu gerbang, So Eun memberikan isyarat untuk berhenti, motor Kim Bum pun berhenti. So Eun segera turun dan memberikan helm yang ia kenakan tadi ketangan Kim Bum, Ia pun berlalu sambil berterimakasih. Melihat perlakuan So Eun kepadanya Kim Bum hanya tersenyum.

Setelah melewati pintu gerbang So Eun langsung disambut histeris oleh teman-temannya yang satu per satu mengucapkan selamat kepada So Eun atas penghargaan yang Ia dapat tadi malam. So Eun hanya membalas dengan senyuman kepada teman-temannya tanpa berkata-kata dia langsung berlalu menuju kelasnya. Sebenarnya So Eun masih bertanya-tanya dalam hatinya tentang laki-laki yang memboncengnya tadi. Tidak pernah sebelumnya laki-laki (khususnya di sekolah ini) tidak mengenalnya, pastilah dia bohong pikirnya. Apalagi sampai berani berbicara agak keras dan cuek dengannya. Biasanya laki-laki selalu lembut dan ramah kepadanya (itu sii karna ada maunya..). Bel tanda masuk berbunyi memecah lamunan So Eun tentang pria misterius itu, tapi dia tidak akan mengenang itu lagi karna masih banyak yang harus di pikirkannya.

Kim Bum lewat di depan So Eun, lalu duduk dibangkunya tepat disamping bangku So Eun, itu bukan karna dia suka sama Soeun, tetapi itu memang tempat duduk yang telah ditetapkan untuknya dan satu bangku untuk satu orang, dan siswa duduk berdasarkan urutan namanya. kebetulan nama Kim Bum sebelum nama So Eun,begitupun dengan teman sekelasnya yang lain. Setelah kejadian tadi rasa Kim Bum bertambah besar terhadap So Eun, tapi dia selalu sadar itu tidak mungkin. Kim Bum mencuri pandang kepada So Eun. Tampak So eun sedang panik sendiri membolak-balik buku fisikanya, Kim Bum tau sekali apa yang sedang terjadi oleh So Eun pasti dia tidak membuat PR karna kelelahan. Kim Bum berinisiatif untuk memberi So Eun contekan, namun dia tidak tau bagaimana cara memulainya, tapi tanpa sadar dia melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan. Levi melemparkan buku latihan fisikanya kemeja So Eun yang membuat So Eun terkejut.

“Hei..apa-apaan ini? Mengapa kamu melempar buku kemeja saya? ” Tanya So Eun heran setengah marah.

“Lagian ini buku apa sih?” sambungnya

“Itu latihan fisika…kamu tidak buat PR kan?”jawab Kim Bum.

“Terus, apa hubungannya aku tidak buat PR sama buku latihan kamu?”, Tanya So eun lagi.

“Sebenarnya tidak ada hubungannya sih…tapi…” jelas Kim Bum.

“ Tapi apa?” So Eun berusaha memotong kata-kata Kim Bum

“Kecuali kamu mau disetrap sama Pak Huan karna tidak buat PR? ”jawab Kim Bum.

“Kira-kira kamu mau yang mana ya, lari keliling lapangan basket sepuluh kali atau…bersihin wc, hahaha…aku sih ogah!”, sambung Kim Bum



So eun membayangkan apa yang dikatakan oleh Kim Bum, seketika ekspresi wajah Hanna berubah dan bersegera So Eun menyalin latihan Kim Bum ke bukunya. Melihat ekspresi wajah So Eun yang takut bercampur jijik seperti tidak percaya, Kim Bum hanya tertawa geli (diam-diam). Setelah selesai menyalin So Eun langsung mengembalikan buku latihan Kim Bum, tentu saja dengan cara melompatkannya ke meja Kim Bum yang juga membuatnya terkejut. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut So Eun, dia hanya melihat Kim Bum sinis lalu membuang mukanya kearah lain sambil berbicara dengan teman lain. Levi hanya tersenyum melihat tingkah So Eun, dan segera ia mengambil bukunya, waktu ia mengangkat bukunya ada lembaran kertas sobek terjatuh di antara celah bukunya. Di kertas itu tertulis “makasih, tapi lain kali aku ga butuh!!!..O..iya satu lagi, makasih juga atas tumpangannya tadi, wajah bodohmu terlihat jelas dari balik kaca helm mu”. Melihat tulisan itu Kim Bum terkejut, dia tak menyangka So Eun tau Kalau dirinya yang membonceng So Eun tadi, tawa Levi pun pecah, dia senang sekali mendapat pesan dari orang yang dicintainya, walaupun isinya tidak terlalu menyenangkan dan pastinya kertas sobek itu akan di abadikannya. Semoga ini satu langkah awal bagi Kim Bum agar bisa lebih mengenal dan dekat dengan So Eun...

bersambung...^_^


18 Juli 2010

Artikel


Akhir Permainan Tradisional


Cabur kali panjang kali pendek, dimulai…

Diatas adalah sedikit nyanyian permainan tradisional yang ada di Indonesia, khususnya Sumatra Barat. Nama permainannya adalah permainan Cabur, permainan ini sangat digemari oleh masayarakat Minangkabau dahulunya. Namun sekarang, anak-anak sudah kurang berminat untuk memainkan permainan Cabur dan permainan tradisional lainnya. Mereka lebih suka menatap aneka kartun dilayar datar dengan memegang steak sebagai pengendali. Fenomena ini terjadi disebabkan banyaknya bermunculan permainan elektronik maupun non elektronik yang lebih menarik perhatian anak-anak, juga pengaruh kemajuan IPTEK di Indonesia, seperti : Play Stasion (PS), Game Online, mobil-mobilan dan lainnya.

Memang tidak dipungkiri permainan yang membanjiri pasar Indonesia saat ini lebih menarik, aktraktif dan menghibur dibandingkan permainan tradisional. Orangtua pun sekarang ini lebih senang membelikan permainan modern untuk anak-anak mereka. Kebanyakan dari orang tua ini tidak lagi mengajarkan atau memperkenalkan kepada anak-anak mereka permainan rakyat yang dahuulu pernah mereka mainkan sewaktu mereka kanak-kanak. Mungkin para orang tua terlalu sibuk dengan aktivitas sehingga tidak ada waktu untuk mengajarkan dan memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak mereka, atau orang tua berpikir permainan tradisional sudah ketinggalan zaman dan tak perlu diajarkan lagi.

Sungguh pun begitu, alasan ini tidak bisa diterima sepenuhnya karena kalau sibuk bekerja pasti akan ada waktu libur untuk keluarga. Pada saat itulah waktu yang tepat untuk memperkenalkan dan mengajarkan kepada anak-anak permainan tradisional. Sehingga anak-anak juga mencobakan permainan-permainan yang diajarkan oleh orang tuanya bersama teman-temannya di sekolah maupun di rumah. Jika orangtua menganggap permainan tradisional ketinggalan zaman, maka orang tua ini harus sadar bahwa permainan tradisional adalah warisan kebudayaan yang ada secara turun-temurun yang harus dikembangkan dan dilestarikan agar tidak punah.

Selain itu, permainan tradisional juga dapat membantu tumbuh kembang seorang anak. Pengaruh dan manfaat permainan tradisional terhadap perkembangan anak sangat besar. Pertama, anak dapat menjadi lebih kreatif, karna permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemain. Mereka menggunakan semua barang, benda dan alam sekitar untuk mereka pergunakan dalam sebuah permainan. Dan biasanya, permainan tradisional tidak memiliki aturan tertulis, selain aturan yang umum, anak-anak ini juga dapat membuat aturan baru yang mereka sepakati bersama. Disini terlihat bahwa para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan sesuatu dan peraturan baru yang sesuai dengan keadaan mereka.

Kedua, permainan tradisional juga dapat digunakan sebagai terapi terhadap anak, karena melalui permainan ini anak-anak dapat melepaskan semua emosinya. Mereka bebas berteriak, tertawa, dan bergerak. Ketiga, dengan permainan tradisional tanpa sadar anak-anak mengembangkan kecerdasan intelektual mereka, kecerdasan emosi antar personal, kecerdasan logika, kecerdaan kinestetik, kecerdasan natural, kecerdasan spasial dan kecerdasan musical. Karena dalam bermain wawasan mereka akan bertambah, emosional mereka terasah sehingga timbul toleransi, nyaman dalam berkelompok dan bersikap sportif, mereka akan lebih terlatih untuk memikirkan strategi, kecendrungan untuk bergerak, berdekatan dengan alam, mengenal konsep ruang dan berganti peran, dan juga belajar musik melalui nyanyian-nyanyian yang ada pada permainan tersebut.

Maka dari sini dapat kita sadari bersama bahwa permainan tradisional sangat penting untuk kita kembangkan dan kita lestarikan. Karna pengaruh dan manfaat yang sangat besar bagi perkembangan anak-anak dan juga merupakan suatu warisan budaya dari orang-orang terdahulu (nenek moyang) kita. Jadi, mulai sekarang cobalah ajak anak-anak atau adik-adik kita untuk bermain bersama dengan permainan tradisional yang belum mereka ketahui. Jangan biarkan permainan tradisional menjadi punah dan hilang, tetaplah menjaga permainan tradisional ini agar kelak negara kita akan menjadi bangsa yang cerdas dan berbudaya.