25 Juli 2010

Cerbung






Part 1

The Way Of Love

Perkenalkan:Kim So Eun, gadis yang biasa dipanggil So Eun ini adalah seorang remaja multi talenta. Model, acting dan menyanyi sambil ngedance adalah keahliannya. Memiliki wajah yang cantik, postor badan yang professional dan kekayaan yang takkan habis untuk 7 turunan ( tajir abis!!! ). Di bidang akademik pun dia tidak ketinggalan, dia selalu mendapat juara di kelasnya, walaupun tidak jadi yang pertama (karena slalu kalah tanding sm cowok kutu buku yg genius abis,…arrrghh). Dan yang pasti semua wanita sangat memimpikan diri seperti Hanna, dan para pria berharap memiliki kekasih seperti Hanna. Di balik semua itu Hanna sangat kesepian, ia mendambakan seorang teman yang tulus menerima dia sebagai seorang “So Eun” bukan karna embel-embel diatas.

Kim Sang Bum, lelaki yang dipanggil Kim Bum ini adalah cowok paling genius di sekolah So Eun (So Eun kalah deh...). Dia selalu memenangkan Olimpiade di bidang Ipa, matematika maupun Karangan Ilmiah ( good student…^_^). Dia bisa sekolah di SMA yang paling ternama dan elit ini karna beasiswa yang ia raih berkat kepintarannya. Kim Bum hanya seorang anak kurang mampu yang tinggal di rumah warisan ayahnya berserta ibu dan adiknya tercinta. Kehidupan yang sederhana membuat ia menjadi seorang yang kuat, bijaksana, dewasa dan bertanggungjawab.

Sekian dulu perkenalan tokohnya..yang lain nyusul aja yah...hee

Langsung saja kita masuk ke ceritanya, selamat menikmati, semoga terhibur (heee..), jangan lupa kasih saran dan kritik yg membangun ya….(ngarep^_^).

Malam ini So Eun akan menghadiri sebuah acara penghargaan bergengsi nomer wahid di Negerinya. Dia harus menghadiri acara ini karena dia termasuk salah satu nominator dari kategori “Aktris Terbaik”, ini pertamakalinya So Eun masuk nominasi penghargaan yang begitu besar, siapapun yang berhasil membawa tropy berbentuk orang berdiri dan tangan dilipat di dada itu pulang, maka tidak akan diragukan lagi kehebatanya sebagai seorang Entertain. So Eun sangat senang sekali waktu mendengar bahwa dirinya masuk nominasi dan bersaing dengan artis ternama lainnya.

Gaun terusan berwarna merah menutupi tubuh indah So Eun serta anting dan kalung yang bernaung di tempat masing-masing menjadikan So Eun seperti seorang wanita teramat cantik malam itu. Setelah menuruni mobilnya, serentak semua lensa kamera wartawan yang berada di tempat itu tertuju kepadanya, karpet merah yang menjadi jalur tempat ia berjalan merupakan saksi bisu kepiawaiannya dalam memikat perhatian setiap orang yang menatapnya, senyuman terindahnya pun ikut menyempurnakan penampilannya malam itu.

Kini tiba saatnya membacakan pemenang dari kategori “Aktris Terbaik”. Sebelum mengumumkan pemenangnya, di putar dulu video yang berisi 6 orang nominator, saat wajah So Eun muncul di Layar yang hampir sebesar lapangan bola itu, sontak semua penghuni gedung bersorak-sorai. Mendengar itu So Euntertawa kecil karna senangnya, ternyata banyak orang menyukainya. Dua orang artis ternama pun memasuki panggung, mereka bertugas untuk membacakan pemenangnya. Kedua Artis itu tampak mulai membuka amplop bernuansa emas yang mereka lakukan bersamaan. Sesaat suasana menjadi hening. Artis itu pun membacakan pemenangnya.

“Baiklah,..sepertinya semua orang disini sudah penasaran” ucap salah satu artis

“Iya benar, mari langsung saja kita bacakan” lanjut artis yg satu lagi

“Pemenang Kategori ’Aktris terbaik’ di raih oleh....Kim So Eun....Selamat untuk Kim So Eun” Ungkap artis itu bersamaan.

So Eun berjalan anggun menuju pentas setelah namanya disebutkan,. Dia sedikit sock dengan kemenangannya, karena nominator yang lain telah senior darinya dan dia tidak menyangka bahwa dia yang menjadi pemenangnya. Ekspresi tidak percayanya masih menyelimuti wajahnya, sekarang Ia telah menggenggam piala yang menjadi kebanggaan semua artis. Dia pun mulai berucap terimakasih, tak terasa air mata berjatuhan di pipinya. So Eun sangat terharu dengan kemenangannya, dia pun menyeka air matanya dengan perlahan. Orang yang melihatpun ikut terharu.


Setelah berhasil membawa pulang piala kebanggaan setiap artis itu, So Eun langsung menuju kamarnya untuk tidur karena jam telah menunjukakan pukul 2 pagi. Dia sangat capek karena tadi sepulang sekolah dia juga menjalani pemotretan untuk sebuah majalah. Hari ini sunggguh melelahkan baginya namun sekaligus membahagiakan, karena Ia berhasil mendapatkan penghargaan tersebut. Dia pun terlelap di kasur empuknya sambil memeluk piala tanpa mengganti gaun indahnya dengan piama.

Jam weker kepunyaan So Eun pun memekik sangat kencang, namun belum berhasil membangunkan si empunya. Jam weker tidak menyerah begitu saja, ia mencoba berteriak lebih keras lagi hingga memekakan telinga. Kali ini jam weker berhasil dengan misinya, So Eun terbangun dan segera menghentikan pekikan yang dapat merusak gendang telinga itu. Perlahan ia mencari jarum jam yang ada di tangannya itu sambil meneliti. Pandangannya masih kabur, lalu ia mengucek-ucek matanya sehingga dapat melihat dengan jelas arah jarum jam tersebut.

So Eun lansung melompat turun dari tempat tidurnya, dan mencoba berlari menuju kamar mandi, tapi gaunnya tidak melancarkan keinginannya itu, So Eun memijak ujung gaun yang menutupi kakinya hingga ia terjatuh. Rasa sakit merambas ketubuh So Eun yang membuat kekesalan di dalam hatinya memuncak, tanpa banyak pergerakan ia pun langsung membuka gaunya dan masuk ke kamar mandi. 5 menit berlalu, So Eun telah selesai mandi dan bersiap memakai baju sekolahnya. Setelah semua terpasang, mobil So Eun melaju dengan kencang sesuai dengan keinginan sopirnya. Di perjalanan So Eun menyisir rambutnya yang tadi tidak sempat ia lakukan, ketika asyik berdandan mobil So Eun terhenti. So Eun yang bingung kenapa mobilnya berhenti langsung bertanya kepada sopirnya.

“Kenapa Pak? Kok mobilnya berhenti?”, Tanya So Eun

“Saya tidak tau Non, mobilnya berhenti sendiri. Biar saya cek dulu ya Non”, kata sopirnya.

“Äduh Bapak…sayakan harus cepat sampai kesekolah, ntar telat ni Pak”, celetuk So Eun.

“Iya Non...maaf, sepertinya mobil harus di bawa kebengkel Non”, ungkap sopirnya dengan wajah memelas.

“Ya udah Pak, saya naik taksi aja ya…Bapak bawa mobil ini kebengkel, oke!”, tawar So Eun

“Baik Non..saya laksanakan”, jawab si sopir.

So Eun segera keluar dari mobilnya dan mencari taksi, tapi telah beberapa menit menanti, So Eun tidak mendapati satu taksi pun yang lewat didepanya. Hari sudah menunjukan pukul 7: 20 WIB, berarti So Eun punya waktu 10 menit lagi untuk sampai kesekolahnya sebelum gerbang ditutup. So Eun berusaha keras mencari-cari taksi namun dia tak kunjung menemukan taksi, dengan hati pasrah So Eun mulai berjalan menuju sekolahnya. Tiba-tiba So Eun melihat peluang besar untuknya agar tidak terlambat sampai di sekolah. Dia berjalan ketengah jalan dan berusaha menyetop sebuah sepeda motor yang tengah melaju. Tentu saja hal ini membuat si pengendara motor langsung menghentikan motornya. Dengan suara setengah marah si pengendara motor yang tidak lain adalah Kim Bum langsung bertanya pada So Eun.

“Hei…kamu ini kenapa? Mau mati ya?”, Tanya Kim Bum kesal.

So Eun langsung mendekati Kim Bum, setelah tau orang itu So Eun, Kim Bum langsung gugup dan tidak dapat berkata apa-apa. Helm yang melingkar di kepalanya berhasil menutupi ekspresi gugupnya, tanpa berkata-kata So Eun langsung mengambil helm yang tergantung di jok depan motor dan menaiki motor Kim Bum. Kim Bum hanya diam mematung dengan kejadian ini. So Eun pun memukul helm yang terpasang di kepala Kim Bum. Kim Bum terkejut karna pukulan yang lumayan keras itu.

“Hei…sakit tau…!”, ungkap Kim Bum kesal

“Kamu sih pakai acara diam segala…ntar telat nyampe sekolah”,jawab So Eun ketus.

“Darimana kamu tau kalau kita satu sekolah?”, Tanya Kim Bum asal

“Ya dari seragamlah…mana ada seragam SMA lain yang sama dengan SMA kita. Udah maju jangan banyak nanya!”, perintah So Eun.

“Udah naik maksa, seenaknya aja merintah”, celetuk Kim Bum.

“Kamu tidak tau siapa aku?”, Tanya So Eun sedikit menyombong.

“Memangnya aku harus tau siapa kamu?” balas Kim Bum

Terjadi kehening seketika. Wajah So Eun mengeluarkan ekspresi kesal bercampur tidak percaya.

“Udah cepat jalan…!!!” desak So Eun.

“Iya....Iya…”jawab Kim Bum ketus.

Motor Kim Bum pun melaju dengan hati-hati (agak lambat), sehingga membuat So Eun memaksa Kim Bum untuk lebih mempercepat laju motornya. Dengan segera Kim Bum mempercepat dua kali lipat laju motornya, So Eun secara spontan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kim Bum untuk berpegangan. Kim Bum menjadi semakin tegang karna ulah So Eun itu, darahnya berdesir dan jantungnya berdegub dengan kencang. Didalam hatinya Kim Bum sangat senang bisa boncengan dengan wanita idamannya. Ya, diam-diam Kim Bum telah menyukai So Eun waktu dari SMP sebelum So Eun terkenal seperti sekarang. Kim Bum selalu menyadarkan dirinya sendiri agar tidak bermimpi untuk mendapatkan So Eun, karna walaupun sekarang mereka sudah sekelas mereka tidak pernah melakukan percakapan atau sejanisnya, So Eun terlalu sibuk untuk itu. Sesampainya di depan pintu gerbang, So Eun memberikan isyarat untuk berhenti, motor Kim Bum pun berhenti. So Eun segera turun dan memberikan helm yang ia kenakan tadi ketangan Kim Bum, Ia pun berlalu sambil berterimakasih. Melihat perlakuan So Eun kepadanya Kim Bum hanya tersenyum.

Setelah melewati pintu gerbang So Eun langsung disambut histeris oleh teman-temannya yang satu per satu mengucapkan selamat kepada So Eun atas penghargaan yang Ia dapat tadi malam. So Eun hanya membalas dengan senyuman kepada teman-temannya tanpa berkata-kata dia langsung berlalu menuju kelasnya. Sebenarnya So Eun masih bertanya-tanya dalam hatinya tentang laki-laki yang memboncengnya tadi. Tidak pernah sebelumnya laki-laki (khususnya di sekolah ini) tidak mengenalnya, pastilah dia bohong pikirnya. Apalagi sampai berani berbicara agak keras dan cuek dengannya. Biasanya laki-laki selalu lembut dan ramah kepadanya (itu sii karna ada maunya..). Bel tanda masuk berbunyi memecah lamunan So Eun tentang pria misterius itu, tapi dia tidak akan mengenang itu lagi karna masih banyak yang harus di pikirkannya.

Kim Bum lewat di depan So Eun, lalu duduk dibangkunya tepat disamping bangku So Eun, itu bukan karna dia suka sama Soeun, tetapi itu memang tempat duduk yang telah ditetapkan untuknya dan satu bangku untuk satu orang, dan siswa duduk berdasarkan urutan namanya. kebetulan nama Kim Bum sebelum nama So Eun,begitupun dengan teman sekelasnya yang lain. Setelah kejadian tadi rasa Kim Bum bertambah besar terhadap So Eun, tapi dia selalu sadar itu tidak mungkin. Kim Bum mencuri pandang kepada So Eun. Tampak So eun sedang panik sendiri membolak-balik buku fisikanya, Kim Bum tau sekali apa yang sedang terjadi oleh So Eun pasti dia tidak membuat PR karna kelelahan. Kim Bum berinisiatif untuk memberi So Eun contekan, namun dia tidak tau bagaimana cara memulainya, tapi tanpa sadar dia melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan. Levi melemparkan buku latihan fisikanya kemeja So Eun yang membuat So Eun terkejut.

“Hei..apa-apaan ini? Mengapa kamu melempar buku kemeja saya? ” Tanya So Eun heran setengah marah.

“Lagian ini buku apa sih?” sambungnya

“Itu latihan fisika…kamu tidak buat PR kan?”jawab Kim Bum.

“Terus, apa hubungannya aku tidak buat PR sama buku latihan kamu?”, Tanya So eun lagi.

“Sebenarnya tidak ada hubungannya sih…tapi…” jelas Kim Bum.

“ Tapi apa?” So Eun berusaha memotong kata-kata Kim Bum

“Kecuali kamu mau disetrap sama Pak Huan karna tidak buat PR? ”jawab Kim Bum.

“Kira-kira kamu mau yang mana ya, lari keliling lapangan basket sepuluh kali atau…bersihin wc, hahaha…aku sih ogah!”, sambung Kim Bum



So eun membayangkan apa yang dikatakan oleh Kim Bum, seketika ekspresi wajah Hanna berubah dan bersegera So Eun menyalin latihan Kim Bum ke bukunya. Melihat ekspresi wajah So Eun yang takut bercampur jijik seperti tidak percaya, Kim Bum hanya tertawa geli (diam-diam). Setelah selesai menyalin So Eun langsung mengembalikan buku latihan Kim Bum, tentu saja dengan cara melompatkannya ke meja Kim Bum yang juga membuatnya terkejut. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut So Eun, dia hanya melihat Kim Bum sinis lalu membuang mukanya kearah lain sambil berbicara dengan teman lain. Levi hanya tersenyum melihat tingkah So Eun, dan segera ia mengambil bukunya, waktu ia mengangkat bukunya ada lembaran kertas sobek terjatuh di antara celah bukunya. Di kertas itu tertulis “makasih, tapi lain kali aku ga butuh!!!..O..iya satu lagi, makasih juga atas tumpangannya tadi, wajah bodohmu terlihat jelas dari balik kaca helm mu”. Melihat tulisan itu Kim Bum terkejut, dia tak menyangka So Eun tau Kalau dirinya yang membonceng So Eun tadi, tawa Levi pun pecah, dia senang sekali mendapat pesan dari orang yang dicintainya, walaupun isinya tidak terlalu menyenangkan dan pastinya kertas sobek itu akan di abadikannya. Semoga ini satu langkah awal bagi Kim Bum agar bisa lebih mengenal dan dekat dengan So Eun...

bersambung...^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar